Sosialisasi Pembuatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) pada Masyarakat Kepulauan Lemukutan Kalimantan Barat dalam Usaha Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

  • Shifa Helena Tanjungpura University
  • Desriani Lestari
  • Yanieta Arbiastutie
  • Warsidah Warsidah
Keywords: Aedes Aegepty, Demam Berdarah Dengue, Fogging, PKM, TOGA

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue, banyak terjadi di wilayah tropis ataupun subtropis. DBD banyak berjangkit pada  anak usia 5-16 tahun, dengan gejala demam tinggi, perdarahan lalu syok  berujung pada kematian dalam waktu singkat. Usaha pencegahan adalah dengan pembersihan genangan air,  pengurasan atau fogging,  penggunaan anti nyamuk bakar, lotion, fogg terutama pagi dan sore hari. Jika positif terjangkit segera dirawat di rumah sakit serta mengkonsumsi obat-obatan penurun demam, bahan alam yang dapat meningkatkan kadar trombosit darah serta banyak minum air. Tanaman Obat Keluarga yang disingkat TOGA  adalah sejumlah tanaman yang dipelihara di pekarangan, berkhasiat obat,  dapat memenuhi keperluan obat-obatan sekeluarga dan mewujudkan kemandirian keluarga dalam pengobatan penyakit. Zodia, sere wangi, daun selasih dan lavender merupakan tanaman pengusir nyamuk karena  bau yang tidak disukai oleh nyamuk, dapat digosokkan langsung ke kulit atau menempatkan pot tanaman tersebut di area aktivitas kita. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ditempatkan di Pulau Lemukutan Kalimantan Barat untuk mensosialisasikan pembuatan TOGA khususnya tanaman untuk pencegahan dan pengobatan penyakit DBD. Kegiatan diikuti oleh 25 orang warga, selanjutnya akan menjadi duta-duta TOGA di seluruh kepulauan Lemukutan.

Downloads

Download data is not yet available.
Published
2021-09-23
How to Cite
Helena, S., Lestari, D., Arbiastutie, Y., & Warsidah, W. (2021). Sosialisasi Pembuatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) pada Masyarakat Kepulauan Lemukutan Kalimantan Barat dalam Usaha Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Journal of Community Engagement in Health, 4(2), 298-302. https://doi.org/10.30994/jceh.v4i2.148